Baper - Bacaan Perempuan

Bagaimana Cara agar Kuliner Betawi Tetap Bertahan?

JAKARTA, KOMPAS.com – Jakarta merupakan ibu kota negara Republik Indonesia. Jakarta pula menjadi tempat yang sering dituju oleh pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mencari nafkah.

Hal tersebut membuat terdapat banyak sekali persilangan budaya yang terjadi di Jakarta, sehingga bisa dibilang budaya asli Jakarta, yakni Betawi agak tersisihkan karena banyaknya budaya lain yang masuk ke Jakarta.

“Salah satu budaya yang rawan hilang adalah budaya kuliner Betawi,” ujar pakar kuliner Asia dan Eropa, William Wongso saat membawakan seminar dengan tema “Dapur Betawi, Lidah Jakarta” di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (5/5/2017).

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rawannya kehilangan kuliner betawi, misalnya tidak ada lagi generasi penerus yang mau membuat masakan Betawi dan kurangnya pendidikan mengenai kuliner Betawi di sekolah,” ujar William.

(BACA: Legitnya Dodol Betawi Inti Sari, Eksis sejak 1970)

Jadi, lanjut William, keluarga-keluarga Betawi seharusnya tetap mempertahankan resep-resep leluhur yang sudah ada dan harus diturunkan kepada generasi penerusnya saat ini.

Karena terjaganya suatu budaya dapat dimulai dari tahap keturunan dalam keluarga. Jadi kebiasaan yang dilakukan setiap keluarga juga penting dalam terjaganya suatu budaya.

KOMPAS.COM/Alek Kurniawan Dapur Betawi, Lidah Jakarta merupakan salah satu tema seminar yang diadakan dalam Pekan Budaya Betawi yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (05/05/2017).

“Sekolah sebagai institusi pendidikan juga berperan penting dalam mengajarkan dan mengenalkan kuliner betawi di Jakarta. Guru-gurunya pun harus yang berkompeten dan tahu benar asal-usul kuliner tersebut. Hal ini bisa bekerja sama dengan para ahli yang menguasai bidang kuliner betawi,” jelasnya.

Jarak tempuh dari suatu tempat ke tempat berikutnya serta kemacetan di Jakarta juga turut memengaruhi keberadaan kuliner Betawi.

“Rumah makan Betawi di Jakarta pun jarang ditemukan. Jadi biasanya orang yang mau makan makanan Betawi harus menuju ke tempat yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Hal ini bisa dibilang kurang efisien bagi sebagian orang,” kata William.

(BACA: Perjuangan di Balik Kesuksesan Soto Betawi H. Ma?ruf)

Hal tersebut, tambah William, bisa diatasi dengan didirikannya sentra kuliner Betawi di beberapa titik di Jakarta. “Pemerintah seharusnya bisa membuat sentra kuliner Betawi di beberapa tempat agar mudah dijangkau warga,” jelas William.

Dari beberapa kuliner Betawi yang ada, memang hanya segelintir yang masih terjaga hingga saat ini, misalnya Asinan Jakarta, Gado-gado, Soto Betawi, Es Doger, Bir Pletok, Kerak Telor, dan seterusnya.

KOMPAS.COM/Alek Kurniawan Asinan Jakarta yang tersedia di Pekan Budaya Betawi di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (05/05/2017).

“Namun kuliner seperti Sate Asem, Gabus Pucung, Pecak Gurame, Sayur Besan, Alie Begente, Kue Mangkok Gula Merah, Sirpe dan seterusnya mungkin sudah sangat asing dan sulit untuk menemukannya,” kata William.

Dia menambahkan, kerja sama yang apik dari masyarakat Betawi dan Jakarta pada umumnya, para ahli kuliner betawi, institusi pendidikan dan pemerintah daerah memang harus terjalin secara serius untuk menjaga kuliner Betawi tetap eksis di rumahnya sendiri dan tetap terjaga keistimewaannya.

Sumber: travel.kompas..com

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.