Baper - Bacaan Perempuan

Labiaplasty, Operasi untuk Mempercantik Organ Intim Wanita

Tindakan operasi untuk mempercantik penampilan semakin populer. Tidak hanya bagian wajah, organ intim wanita pun kini menjadi sasaran untuk dipercantik lewat pisau bedah.

Labiaplasty atau operasi untuk mengurangi ukuran bibir vagina menurut American Society of Plastic Surgeons, termasuk operasi plastik genital yang paling sering dilakukan. Yang memprihatinkan, kini operasi tersebut juga diminati gadis-gadis remaja.

“Mereka kadang akan mengeluarkan komentar seperti ini, saya hanya membencinya, saya hanya menginginkannya dihapus. Mereka bisa berpendapat begitu pada semua bagian tubuhnya, terutama organ intimnya” kata Dr Naomi Crouch seorang ginekolog remaja kepada BBC yang dikutip Medical Daily.

Seorang gadis bernama Anna (bukan nama sebenarnya) mulai mempertimbangkan labiaplasty pada usia 14 tahun. Dia berkeinginan untuk melakukan operasi vagina tersebut setelah mendapati bentuk vagina yang menurutnya proporsional dari sebuah film porno.

“Saya baru mengetahui bahwa itu harus simetris dan tidak mencuat. Saya menginginkannya menjadi lebih kecil,” tutur Anna.

Anna melanjutkan, meski dirinya memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan operasi vagina namun, dirinya masih mempertimbangan risikonya.

Akhirnya, Anna pun memutuskan untuk tidak melakukan operasi tersebut. “Saya benar-benar senang karena tidak melakukannya, saya tidak membutuhkannya, saya terlihat normal. Sepenuhnya dan sangat normal,” ucapnya.

Dokter Paquita de Zulueta, yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun mengatakan, bahwa “bentuk vagina yang cantik” menjadi tren selama beberapa tahun terakhir ini.

“Persepsi mereka adalah bibir dalam seharusnya tidak terlihat, seperti Barbie, tapi kenyataannya ada banyak. Sangat normal jika bibir vagina menonjol,” terang Paquita.

Menurut BBC, National Health Service di Inggris tidak mengizinkan prosedur tersebut dilakukan hanya karena alasan kecantikan, sehingga menyebabkan banyak gadis remaja yang makin membesar-besarkan ketidaknyamanan vagina mereka.

Tren yang juga melanda gadis-gadis remaja di Amerika Serikat ini membingungkan para dokter ahli. Dr Julie Strickland, ketua komite American College of Obstetricians mengatakan kepada New York Times, tren ini seharusnya tidak perlu terjadi.

“Seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan sampai pertumbuhan dan perkembangannya selesai,” kata Strickland. Ia menjelaskan bahwa operasi tersebut memiliki efek jangka panjang seperti mati rasa, nyeri, atau jaringan parut.

Meski demikian, operasi ini memiliki manfaat bagi remaja. Karena alasan medis, operasi ini boleh dilakukan oleh mereka yang banyak berolahraga dan mengalami rasa lecet atau gatal.

 

Sumber : kompas.com

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.